Ilum
Bunyi yang ditimbulkan dari hentakkan sepatu high heels dengan lantai marmer bergema memenuhi ruang lobby hingga selasar di luar gedung. Bahkan detaknya masih terdengar sampai ke balik dinding ruang-ruang kantor di lantai atas.
Para pegawai di gedung berlantai 26 itu terdiam menahan nafas. Mereka tidak ingin desah nafasnya mengganggu suara sepatu Ilum. Momen seperti ini hanya terjadi sekali dalam sehari sehingga mereka tidak ingin melewatkan.
Beberapa pegawai di bagian front office memilih menghentikan aktifitasnya dan mengalihkan pandangannya untuk mengikuti langkah kaki Ilum menuju lift di pojok ruangan. Sebelum Ilum memencet tombol lift, dua security sudah berebut ingin membantunya.
“Silahkan…” ujar Sutejo, security senior di gedung perkantoran itu.
“Terima kasih,” balas Ilum. Tidak lupa ia memberi senyum ramah. Hingga pintu tertutup dan lift mengantarkan gadis berambut panjang itu ke lantai 13, mulut Sutejo masih ternganga. “Awas kemasukan lalat,” ledek Nanang, rekannya sesama security, sambil mengatup mulut Sutejo.
“Rasanya saya mau tiap hari tidak makan asal bisa melihat senyum dan mencium wangi parfum Mbak Ilum. Saya heran dari mana dia mendapatkan parfum dengan aroma begitu wangi, Nang?”
“Wanginya memang sangat khas.”
“Saya belum pernah mencium wangi parfum seperti yang yang dipakai. Padahal banyak perempuan kaya di sini yang bisa beli parfum semahal apa pun. Bahkan parfum Ibu Dewi masih kalah wangi, padahal kabarnya Ibu Dewi tidak mau pakai parfum kalau tidak langsung diimpor dari Perancis.”
“Ibu Dewi salah bel.”
“Salah beli bagaimana Nang? Tidak mungkinlah. Beliau kan orangnya sangat teliti. Lihat saja dandanannya. Sangat rapi dan selalu serasi.”
“Maksudku mestinya Ibu Dewi beli di kuburan,” sahut Nanang sekenanya
“Apa?” Sutejo mulai tegang. Omongan Nanang jauh dari nada canda
“Wangi parfum yang dipakai Mbak Ilum seperti wangi bunga kamboja dicampur minyak japaron ...”
“Ah, tidak mungkin!” potong Sutejo.
“Dengar dulu. Saya kan belum selesai ngomong. Kalau saya amati dan resapi setiap hari, wangi parfum yang memancar dari tubuh Mbak Ilum itu gabungan minyak wangi murahan di pinggir jalan, minyak japaron dan sari bunga kamboja!”
“Ah, kamu ini ada-ada saja,” sungut Sutejo.
Meski hari mulai beranjak siang dan lobby semakin ramai oleh karyawan dan tamu yang baru datang, namun tak ayal bulu kuduk Sutejo meremang juga. Padahal Tower A berada di pusat kota, tepatnya di daerah segitiga bisnis Kuningan Jakarta Selatan. Selain sangat megah, gedung itu juga memiliki sistem pengamanan canggih sehingga siapa pun tidak bisa masuk tanpa mereka ketahui.
Tetapi tetap saja banyak cerita mistis yang menyelimuti. Sejak menjadi petugas keamanan gedung sekitar tujuh tahun lalu, Sutejo beberapa kali mengalami kejadian aneh yang sulit dicerna dengan akal sehat. Tetapi ia enggan menceritakan hal itu karena kuatir dicap sebagai penakut dan penyebar hoaks. Lebih parah lagi jika sampai menimbulkan kehebohan sehingga para penyewa kantor pindah ke gedung lain. Kalau sudah begitu, bukan hanya kehilangan pekerjaan, bahkan pemiliknya mungkin akan menyeret ke kantor polisi.
“Saya pernah malam-malam bertemu Mbak Ilum. Saat itu dia lembur sehingga pulang sampai larut. Begitu keluar dari lift, yang saya lihat bukan Mbak Ilum tapi sosok mirip kuntilanak,” tambah Nanang makin bersemangat karena dilihatnya Sutejo mulai ketakutan.
“Sudah…sudah. Itu ada Mas Huky!”
“Biarkan saja. Dia mah tidak mau dibukakann lift,” sahut Nanang.
“Iya, Mas Huky memang aneh, tidak seperti bos-bos lainnya. Padahal kalau ngasih duit ke kita tidak dihitung, tapi tetap saja tidak mau dilayani seperti lainnya. Dibawain tasnya juga tidak pernah mau,” bisik Sutejo sambil mengangguk kepada Huky ketika laki-laki muda itu lewat di depannya.
“Pagi Mas Huky.”
“Pagi juga Pak Tejo,” sahut Huky sambil buru-buru ke lift dan sesaat kemudian tubuhnya hilang di balik bilik berjalan.
“Saya yakin, melihat semangat dan keuletannya, Mas Huky bakal jadi pengusaha besar. Kamu harus dekatin beliau, Nang,” kata Sutejo.
Nanang mengangkat bahu. Senyum sinis menyembul dari bibir. “Biasanya kalau sudah besar, lupa sama orang seperti kita. Contohnya Pak Hanggono. Dulu, saat bisnisnya terpuruk, selalu menyapa kita. Sekarang setelah bisnisnya jaya lagi, huft…lupa sama kita. Biasalah namanya manusia. Jadi kita jangan terlalu berharap. Nasib kita memang hanya segini.”
Sutejo menghela nafas panjang. Ia membiarkan Nanang berlari ke pelataran untuk membuka pintu mobil Hanggono meski tahu tidak akan mendapat senyum apalagi tips.